BUDAYA

"Menjawab Tantangan Zaman: Bagaimana Generasi Muda Sulsel Menjaga Nilai Siri’ na Pacce di Era Digital"
Di era arus informasi yang serba cepat, media sosial dan dunia digital telah menjadi ruang utama bagi generasi muda Sulawesi Selatan untuk mengekspresikan diri, berinteraksi, dan berkarya. Namun, di balik kemudahan akses teknologi ini, muncul tantangan baru: bagaimana kita menjaga etika, integritas, dan identitas budaya lokal agar tidak tergerus arus modernisasi? Jawabannya terletak pada warisan leluhur yang tak pernah lekang oleh waktu: Falsafah Siri’ na Pacce.
Mengartikan Kembali Siri’ na Pacce untuk Gen-ZBagi masyarakat Sulawesi Selatan, Siri’ mengungkit harkat, martabat, kehormatan, dan rasa malu jika melakukan hal yang merusak nama baik. Sementara Pacce (atau Passe) adalah rasa empati yang mendalam, solidaritas, dan kepedulian sosial terhadap sesama. Di masa lalu, nilai ini menjadi pedoman hidup para pendahulu kita. Di era digital saat ini, Siri’ na Pacce bukanlah artefak budaya yang kaku, melainkan kompas moral utama bagi remaja Sulsel dalam berinteraksi di ruang siber.
Penerapan Siri’ na Pacce di Ruang DigitalBagaimana peran konkret remaja Sulawesi Selatan dalam menerapkan falsafah ini sehari-hari?1. Mempertahankan Siri’ Melalui Etika Bermedia Sosial Menjaga kehormatan diri (Siri’) berarti berpikir kritis sebelum mengunggah sesuatu (Think Before You Post). Ini diwujudkan dengan tidak menyebarkan berita bohong (hoax), menghindari komentar kebencian (hate speech), serta menjaga etika berpendapat di platform digital.2. Mewujudkan Pacce Lewat Kepedulian & Aksi Sosial Rasa empati (Pacce) di era digital bisa diwujudkan dengan memanfaatkan media sosial untuk hal-hal positif. Mulai dari menggalang gerakan sosial, menyuarakan isu-isu remaja, hingga saling mendukung karya anak muda daerah daripada merundung (cyberbullying).3. Menjadi Duta Budaya di Ranah Global Internet memberi panggung tanpa batas. Generasi muda Sulsel memiliki peluang besar untuk mempromosikan keindahan seni, bahasa, tradisi, dan destinasi wisata Sulawesi Selatan ke kancah internasional melalui konten kreatif yang edukatif dan membanggakan.
Penutup: Langkah Nyata Remaja SulselMenjadi modern bukan berarti harus melupakan akar budaya. Justru, generasi muda yang berkarakter adalah mereka yang mampu menguasai teknologi terkini tanpa kehilangan identitas dirinya.Melalui wadah Duta Remaja Sulawesi Selatan, mari kita buktikan bahwa pemuda Sulsel adalah generasi yang cerdas, santun, bermartabat, dan siap menginspirasi Indonesia lewat semangat Siri’ na Pacce!”Kencangkan jemarimu di era digital, tapi jangan pernah lepaskan kompas moral budayamu.”
Sorotan Kemitraan
Merek-merek terkemuka yang berkolaborasi dengan kami.

Uhi na Longko': Falsafah Luhur Toraja untuk Generasi Muda Sulawesi Selatan
Kebudayaan Toraja tidak hanya memukau lewat arsitektur Tongkonan dan ukiran kayunya yang indah, tetapi juga kaya akan ajaran moral mendalam. Salah satu falsafah hidup terpenting masyarakat Toraja adalah Uhi na Longko’ (Rasa Malu dan Kehormatan).
Falsafah ini menjadi pilar utama dalam membentuk kepribadian remaja yang kuat dan beretika:
Longko’ (Rasa Malu Positif): Rasa malu jika melanggar adat, melakukan hal yang merugikan orang lain, atau gagal memberikan yang terbaik bagi keluarga dan masyarakat.
Tongkonan sebagai Simbol Kebersamaan: Rumah adat Tongkonan bukan sekadar bangunan, melainkan pusat persekutuan keluarga tempat bermusyawarah, menjaga tali silaturahmi, dan saling merangkul tanpa membedakan.
Passura’ (Ukiran Toraja): Setiap garis dan warna ukiran Toraja mengandung doa, harapan, serta penghormatan pada alam dan Sang Pencipta.
Sebagai generasi muda Sulawesi Selatan, kita bisa memetik pelajaran berharga dari warisan Toraja:
Menjaga Martabat: Berperilaku santun dan menjaga nama baik di mana pun berada.
Menjunjung Tinggi Persatuan: Menjadikan semangat “Tongkonan” sebagai wadah untuk selalu bersatu dan bekerja sama.
Bangga pada Keragaman: Menghargai dan melestarikan kekayaan budaya Toraja sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas Sulawesi Selatan.

